Siluet ‘Class Struggle’ dalam Kasus Skandal Olivia Jade

miki-nachos
6 min readDec 13, 2020

Akhir-akhir ini ramai banget pembahasan terkait Olivia Jade di timeline Youtube gue. Biasanya, lewat akun spill tea yang nggak pernah kehabisan bahan berita. Tadinya mau gue skip begitu aja, ternyata tea yang dituangin bukan sekedar Jasmine Tea ataupun Tea Sisri. Melainkan skandal bribing / aksi suap suatu Universitas.

(Cr: The New York Times)

‘Hah apaan neh?’

Kalo diteliti, ternyata kasus ini udah terjadi sejak setahun yang lalu. Olivia Jade, seorang Youtuber Amerika yang tengah menjalani perkuliahan (setidaknya sampai tahun 2019 kemarin), di kampus ternama Ivy League yaitu USC, terlibat kasus skandal suap atas $500.000 lewat pemalsuan resume kampus yang dilakukan oleh Ibunya, Lori Loughlin — pemain serial tv Full House — dan Ayahnya Giannulli memasukkan Olivia ke USC melalui jalur prestasi olahraga yaitu Rowing. Fotonya yang sedang berpose dalam aktifitas Rowing di leaked oleh petugas yang bersangkutan, seiring dengan resume palsu yang menyatakan Olivia berhasil meraih beberapa emas, silver dan perunggu lewat turnamen Rowing. Kabarnya, ini nggak cuma melibatkan Olivia sendiri, tapi juga saudaranya, yaitu Isabella Rose.

Rasanya kayak perpaduan drama Sky Castle plus Bad Genius, ya?

Terlepas dari aktifitas ‘bribing’ ini udah seliweran di US bahkan di seluruh belahan dunia, bahwa, ‘coy yang kayak begini mah udah nggak heran’ ya bener. Banyak orang yang nyuap Universitas buat dapetin spot, bayar ijazah untuk lulus dengan nilai bagus, bayar orang dalem untuk dapet posisi di perusahaan. Nggak kaget, jelas. Tapi nggak lantas bisa kita ‘yaudah lah’ in dan move on gitu aja. Justru, hal ini masih layak untuk kita bicarain.

Mau sampai kapan, sistem ini berjalan? Mau sampai kapan institusi membenarkan, dan meloloskan dengan mudah kandidat yang nggak eligible untuk selanjutnya berpotensi menghasilkan kecurangan yang lebih besar lagi di komunitas masyarakat?

Yang jadi perhatian di sini adalah;

1. It’s sooo obvious.

2. Di awal, Olivia Jade mengaku nggak tahu menahu atas tindak tanduk orang tuanya.

3. Setelah ke gap, Olivia juga nggak menyadari bahwa yang telah terjadi merupakan suatu kesalahan.

4. Class struggle.

Yok, kita kulitin satu persatu.

Pertama,

Olivia Jade udah terang-terangan jelasin di akun Youtubenya bahwa doi nggak ada niatan untuk ngampus, tapi Ibunya maksa mulu. Sekalipun kuliah, dia cuma care tentang college party, dan segala hal yang nggak melibatkan pembelajaran. I don’t have anything against it. Sebagian orang memang punya prinsip yang berbeda untuk kuliah. Ada yang untuk dapetin skill, pengalaman, atau emang course yang diambil bakal mendukung dan mempercepat langkah individu tersebut untuk dapetin posisi yang dia mau. Bagi gue dan beberapa orang di belahan dunia, mungkin nggak bermasalah soal ini. Bukan sebuah crime untuk kuliah sekedar dapetin pengalaman. Apalagi kasusnya, Olivia adalah influencer yang financially stable, bahkan punya personal branding sendiri, serta keluarga yang dapat mensupport dia secara finansial. Pokoknya tanpa edukasi pun, doi bakal survived dari kejamnya Ibu Kota lah ya.

Tapi yang nggak Olivia sadari adalah, USC merupakan salah satu kampus Ivy League dengan acceptance rate 2% dan kualifikasi yang super ketat. Jadi mau meliak-liuk gimana pun, bakal ada secuil manusia yang keep an eye on her dan curigesyen. Dari mana Olivia bisa masuk ke USC dengan motivasi yang cuma ingin party? Apakah doi child prodigy seperti Elizabeth Harmon?

Again. She made it too obvious for people to curious.

Kedua,

Olivia mengaku bahwa dia nggak tahu apa-apa tentang tindak-tanduk ibunya yang udah memalsukan resume turnamen Rowing dan serta menyuap USC dengan nominal $500.000 itu. Padahal dari foto yang beredar, menandakan bahwa Olivia udah voluntarily berpose untuk Rowing. Nggak mungkin kan, kalo pas Ibunya minta foto, kejadiannya bakal kayak begini,

“Anakku, yuk pose Rowing,”

“Ngapain, Mak? Ane kan kagak ngikut gituan?”

“Ya pose aja sih, biar diforward ke grup arisan!”

“Nghokey,”

Kan nggak mungkin, Pak. Pasti ada adegan dialog dua arah di mana sang anak menanyakan maksud Ibunda. Mana ada lau merem, besoknya terdaftar di nomor absen kelas USC? Lah, gue juga mau woy!

Ketiga,

8 Desember kemarin, Olivia Jade diundang ke Red Table, acara Interview yang dipandu oleh Jada Pinkett Smith, Willow Smith dan Adrienne Banfield Norris (aka Gammy). Olivia Jade memberi penjelasan bahwa, kalo semua ini salah, dia nggak menjustifikasi tindakan apapun, serta di akhir ia meminta publik untuk memberi kesempatan kedua.

“There’s no justifying or excusing what happened, we messed up.”

Sayangnya, di sini, nggak terlalu ditekankan seberapa jauh keterlibatan Olivia atas yang dilakukan oleh orang tuanya. Karena sejak kasus ini muncul, doi ngomong bahwa ia nggak tahu kenapa publik kesannya marah banget, kenapa hal ini patut untuk diperbesar, she clearly clueless. Namun, dalam interview ini, ia mengaku salah. Jadi intinya, sebelum ini ketahuan publik, Olivia sadar atau nggak bahwa itu adalah suatu kesalahan?

Sebegitu jauhnya koneksi antara Olivia Jade dengan dunia nyata, sehingga nggak tau bahwa memberikan uang dengan jumlah yang besar adalah tindakan ilegal, bukan sesuatu yang wajar kita lakukan, dan bisa merugikan banyak pihak.

Keempat,

Setelah pernyataan Olivia cukup mencengangkan bagi alam semesta raya, khususnya Interviewer Red Table itu sendiri, menghasilkan kesimpulan bahwa orang-orang dengan privilege tertentu, nggak sadar kalo mereka udah menggunakan peran privilegenya untuk dapetin apapun yang mereka mau dengan mudah, serta bisa lolos begitu aja.

Kalo ini adalah pemaksaan sang Ibunda ke Olivia untuk bisa kuliah, padahal anaknya nggak mau belajar — atau emang punya kesibikan sendiri, ya bisa masuk di community college, online learning university, ngambil association degree. The options are endless!

Adrienne, Willow dan Jada, memiliki perspektif yang berbeda. Adrianne berpikir bahwa Olivia Jade adalah orang kulit putih dengan finansial yang sangat stable, jadi kelanjutan hidupnya juga bakalan baik-baik aja. Dengan atau tanpa klarifikasi publik.

Adrienne Bainfeld menekankan,

“Her being here is the epitome of white privilege.”

Berbeda dengan Jada, bahwa bukan berarti orang-orang kaya macem Olivia ini bisa survived secara finansial, bisa luput dari kondisi emotional yang unstable. Juga dengan Willow yang lebih memilih untuk berada di tengah sisi.

Pembicaraan Olivia dan Red table ini memiliki poin yang agak missing.

Bainfield pointing out ke Olivia Jade atas bentuk abuse of White Privilege. Bainfield menekankan, bahwa Olivia sebenarnya harus aware atas kesalahan dia, sadar bahwa itu ilegal dan salah, sadar bahwa kasus White Privilege salah satu penyebab perbedaan treatment atas orang kulit putih dan kulit hitam dalam sistem criminal justice US. Hukuman orang tua Olivia cuma 2 tahun dengan denda $150.000 serta 100 jam di community service, jelas nggak sebanding dengan apa yang komunitas orang kulit hitam alami. Proses yang seringkali dipersulit untuk mendapatkan hak bicara — bahkan untuk sesuatu yang sangat minor, let alone untuk bisa lolos dari sel. Serta fakta bahwa, pada Maret 2019, Olivia Jade masih sempat party di Yatch saat orang tuanya masuk sel, adalah bentuk bahwa, she’s still okay. She’s still doing her thing.

Tapi kalo dilihat lagi, Jada’s Family pun adalah salah satu dari 1% populasi orang kaya. Dan selama diskusi 30 menit itu, mereka kurang memfokuskan pada Wealth Privileges yang jelas-jelas adalah faktor utama Lori Loughlins dan Mossimo Giannulli sanggup melakukan hal ini.

Karena yang dirugikan dalam kasus ini pun nggak cuma ras tertentu, tapi adanya class struggle yang dialami orang-orang working class yang nggak mendapatkan kesempatan dan perlakuan yang adil atas haknya. Mereka yang ada dalam garis low-middle income, berusaha untuk ngejar beasiswa, masuk jalur prestasi, ngambil student loan, untuk bisa masuk ke sekolah impian dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang layak. Jadi, peran White Privileged nggak sebegitu kontras dibandingkan Wealth Privileged. Publik menganggap Red Table bukan opsi yang tepat untuk mengungkap isu ini. Butuh perwakilan dari orang-orang yang memang terdampak dari skandal yang terus-terusan terjadi ini.

Still, Adrienne dan Jada punya poin yang bagus untuk di adress langsung ke Olivia Jade. Meskipun, Olivia juga nggak memberi penjelasan detail atas keterlibatannya sendiri. Olivia sadar bahwa dia udah menyalahgunakan privilegenya tapi masih nggak mengerti sepenuhnya, kenapa itu salah. Bingung, bingung dah lau.

Jadi diskusi ini terkesan cuma jadi PR stunt Olivia untuk mendapat konfirmasi dan kesempatan kedua dari publik. Terlebih, dari pernyataan Olivia, bahwa dia udah dateng ke after school charity work, memberikan waktunya bagi orang dalam charity ini, sebagai bukti bahwa dia willing untuk berubah dan move forward.

Yang gue tangkep dari aksinya sih, lebih kepada, ‘here, i make mistake, and i come to fix all your problems’ dan menjadi White Savior atas orang-orang yang membutuhkan.

In conclusions, perlu kita tahu, bahwa hal ini nggak bisa dinormalisasikan terus menerus.

‘Ya biasa lah yang kayak gini, bokapnya kan tajir’

‘Ya elah kayak gak tau aja, emang udah begitu’

No. It’s not okay, and it never will.

Ya, tentu, kasusnya selalu berlipat ganda dan buat kita berpangku tangan karena udah nggak mungkin menangkap ‘mereka’ semua ini dengan mudah. But we have to try, so on and so forth, untuk buat pendidikan jadi lebih terakses ke semua lapisan masyarakat.

Wealth Privileged selalu ada dan Class Struggle nyata adanya. Banyak dari murid berprestasi yang udah targetin dari awal untuk masuk ke sekolah impian, ikut ekstrakulikuler bejibun, belajar ampun-ampunan, akhirnya kalah sama orang-orang kaya nan privilege yang nggak repot-repot naro effort apapun untuk dapetin spot.

--

--